NASIB MAK KARNI SEORANG BURUH TANI
Pulang pergi mudik naik kereta api. Kehadiran kereta api benar-benar sangat membantu. Harga tiket yang terjangkau membuatku tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Apalagi dengan adanya transformasi digital, pelanggan dimudahkan karena tidak perlu antre panjang untuk mendapatkan tiket. Cukup pesan lewat aplikasi, sudah deh dapat tiket.
...................
"Punten Neng ngiring ngalangkung" (Permisi Neng numpang lewat)
"Mangga Mak, bade angkat ?" (Silakan Ma, berangkat ?"
"Muhun Neng, alhamdulillah nya cuacana cerah, janten tiasa popoe". (Iya Neng, alhamdulillah ya cuacanya cerah jadi bisa jemur).
"Muhun Mak, mudah-mudahan panas dugi ka siang". (Iya Mak, mudah-mudahan panas sampai siang).
Aku memanggilnya Mak Karni. Sosok wanita yang tidak lagi muda. Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Namun tubuh kecilnya masih terlihat gesit. Langkah-langkah kakinya masih terlihat lincah. Ia merupakan seorang buruh tani yang bekerja pada salah seorang petani sayur di daerah kami.
Daerah kami merupakan dataran tinggi yang berada di sebelah selatan kota priangan. Dikenal aebagai penghasil sayuran, seperti wortel, lobak, kubis, kentang, dan lainnya.
Di usianya yang sudah sangat tua tidak sehatusnya ia masih menanggung beban mencari penghidupan. Namun karena kondisi ekoniomi yang lemah, ia terpaksa harus melakukannya. Suaminya masih hidup, tapi sudah tidak bisa berjalan normal akibat menderita asam urat.
Untuk menuju kebun tenpatnya bekerja, ia memang selalu melewati depan rumahku tepat ketika aku sedang menyapu halaman atau menjemur pakaian seperti saat ini.
Pakaian dinasnya sudah menjafi ciri khas, topi lebar, baju kurung plus celana panjang, dilengkapi sepatu boot. Tak ketinggalan tas gendong berisi perbekalan.
"Emak naha atuh sanes naek ojeg apan kebon teh tebih ?" (Emak, kenapa gak naek ojek aja, kan kebunnya jauh ?"
" upami kana ojeg mah atuh Emak moal kabagean. Ojeg bulak balik 20 rebu ari gaji ngan 25 rebu". ( Kalau naek ojek mah, Emak gak kebagian. Ojek pulang pergi 20 ribu, sedangkan gaji cuma 25 ribu).
Gaji buruh tani di daerahku memang tidak besar. Jam kerja dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 12.00 siang dibayar 25 ribu per hari. Namun, mereka tidak pernah demo menuntut kenaikan gaji . Mungkin karena mereka sangat membutuhkan. Daripada dipecat karena demo, lebih baik bertahan dengan gaji yang rendah.
Pergantian pemimpin pasca pemilu Indonesia 2024 diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Bukan dengan kenaikan gaji, karena gaji mereka tidak mengikuti aturan UMP. Tapi dengan kebijakan-kebijakan pemimpin baru yang lebih berpihak kepada mereka. Harga gas, listrik, sembako sangat diharapkan bisa turun, agar dengan gaji yang kecil bisa mencukupi.
Komentar
Posting Komentar