MEMBANGUN SYUKUR KALA UJIAN MENGGEMPUR

 UJIAN kehidupan merupakan sunatullah yang niscaya menimpa manusia. Tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Ada yang diuji dengan ketakutan, kelaparan, kemiskinan, penyakit, ataupun kematian. 

Dalam al Qur'an Allah berfirman :

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS. Al Baqarah : 155).

Namun jiwa manusia seringkali tidak siap menghadapinya. Selalu ada penolakan ketika ujian itu datang.  Sedih dan putus asa itulah sikap yang biasanya ditampakkan. Ujian sering dipandang sebagai wujud ketidakadilan Allah subhanahu wata'ala kepada dirinya.

Padahal, ketika Allah subhanahu wata'ala menginformasikan bahwa berbagai ujian itu merupakan bagian dari efisode kehidupan yang pasti, di akhiri dengan perintah untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Ini mengisyaratkan bahwa ketika ujian datang harus dihadapi dengan kesabaran.

Bagaimana wujud kesabaran itu ? Dalam ayat selanjutnya Allah menjelaskan, bahwa orang yang sabar itu ketika ditimpa musibah selalu mengatakan, "Innaa lillaahi wainnaa ilahi raaji'uun" (Sesungguhnya kami semua milik Allah dan kepadaNya lah kami akan kembali).

Allah subhanahu wata'ala  ingin mengajarkan Spirit kesabaran melalui kalimat ini. Kata " Innaa" dalam bahasa Arab merupakan dhamir (kata ganti orang ) untuk jamak. Diartikan kami atau kita. Filosofinya, ketika kita mengatakan " Innaa lillaahi..." berarti bahwa kita tidak sendiri. Ada orang lain yang sama tengah diterpa musibah.

 Bahkan Umar bin Khathab mengajarkan, ketika ditimpa musibah bukan hanya sabar yang harus dimiliki, tapi justru kita juga harus membangun rasa syukur karena terdapat kenikmatan di dalamnya. Bagaimana bisa ? Kita coba perhatikan pernyataan beliau :

" Tidaklah aku ditimpa suatu musibah, melainkan aku menemukan tiga kenikmatan di dalamnya. Pertama, bahwanya musibah itu tidak menimpa agamaku. Kedua, bahwasanya musibah itu tidak lebih besar dari yang terjadi. Ketiga,bahwasanya dengan musibah itu Allah akan memberikan balasan yang besar". ( Shafwatut Tafasir, 1 : 93).

Ada seseorang yang mengadu kepada Sahl bin Abdullah, " Ada pencuri yang masuk ke rumahku dan mencuri semua barang- barangku".

Sahl bin Abdullah berkata, "Bersyukurlah kepada Allah, andaikan setan yang masuk ke dalam hatimu, tentu ia akan mengoyak keimananmu, apa yang bisa engkau lakukan ?" Wallahu a'lam bish shawwaab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENTINGNYA KETELADANAN

HANYA ADA SATU (4)

TIDAK SEMUA YANG DIDENGAR HARUS DICERITAKAN