MENGAPA SAYA INGIN MENJADI PENULIS

 SAYA mulai belajar menulis setelah selesai menimba ilmu di salah satu Madrasah setingkat Aliyah yang ada di daerahku. Lembaga pendidikan tempatku belajar merupakan lembaga pendidikan Islam yang notabene lebih banyak mempelajari  ilmu-ilmu keislaman. Alhasil, ketika lulus saya tertintut untuk mengamalkan ilmu yang telah  didapat di tengah masyarakat.

Namun, bisa dikatakan kala itu saya termasuk anak yang introvert dan pemalu. Tidak berani kalau harus tampil di hadapan khalayak, suka nervous. Saya memvonis diri sendiri, tidak berbakat untuk bicara di atas mimbar.

Mulailah terpikir untuk menyampaikan ilmu melalui tulisan. Namun masih bingung bagaimana caranya menjadi penulis. Qadarullah, ketika membaca sebuah majalah Islam ( UMMI) saya menemukan informasi tentang layanan bimbingan menulis jarak jauh secara gratis yang diselenggarakan oleh Ashiddiq Intelectual Forum (Ashif).  Mentornya adalah pak Toha Nasruddin yang memiliki nama pena Abu al Ghifari. 

Kurang lebih kalau gak salah selama enam bulan mendapat bimbingan. Benar-benar gratis. Buku panduan diberikan secara cuma-cuma. Saya hanya mengeluarkan biaya untuk membeli alat-alat untuk mengetik, seperti kertas, tip ex kertas, dan kertas karbon. Karena ketika itu masih menggunakan mesin tik manual yang kalau mengetik terdengar berisik. Belum kayak sekarang pakai komputer dan laptop. Kemudian biaya untuk mengirimkan hasil tulisan  siap edit melalui jasa pos. Tidak online seperti saat ini karena HP nya juga belum ada.

Ada kata- kata mentor yang selalu memantik semangat dan masih diingat sampai saat ini, "ANDA LEBIH BAIK DARI YANG ANDA DUGA:"

Selama bimbingan, dibantu tim Ashiddiq Intelectual Forum dalam penyalurannya, alhamdulillah  beberapa tulisan saya berhasil tembus media. Wuihh senangnya melihat nama terpampang di media. Terbayang kan bagaimana berbunga-bunganya hati ini.Walaupun bukan media besar dan ternama, bagi saya dengan berhasil diterbitkan  media itu sudah merupakan sebuah pencapaian luar biasa yang tentunya lebih memantik semangat untuk terus menulis. 

Selesai bimbingan, saya mencoba terus menulis dan mengirimkannya ke beberapa media. Ada sebagian yang berhasil lolos, sebagian lagi ditolak redaksi  alias tidak diterbitkan. Itu merupakan hal biasa yang tentunya tidak boleh menyebabkan kendurnya semangat.

Memasuki fase berumah tangga dan memiliki anak, mulailah terjadi penurunan. Dengan alasan klasik sibuk mengurus rumah tangga dan anak, saya mulai vacum menulis, walaupun tidak total. Karena, pernah ada beberapa tulisan yang dihasilkan dan diterbitkan.  

Kini, ketika usia memasuki senja, semangat menulis alhamdulillah tidak sirna. Bahkan terasa semakin on fire. Ada beberapa motivasi yang mendorongku untuk terus menulis di usia yang tidak lagi muda. 

Pertama, ingin tetap produktif dan mengisi masa tua dengan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Termotivasi oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia". (HR. Ahmad, ath Thabrani, ad Daruquthni).

Kedua, ingin tetap mendulang pahala saat kesempatan beramal telah tiada. Ketika menulis konten dakwah yang mengajak orang pada ketaatan beragama, lalu mendapatkan penerimaan dan berdampak, maka ilmu yang disampaikan menjadi ilmu yang bermanfaat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara ; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya". (HR. Muslim, no. 1631).

Ketiga, tulisan itu bisa bertahan lama bahkan bisa sampai beberapa generasi. Sehingga manfaatnya bisa terus dipetik dan pahalanya terus mengalir, seperti yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadis di atas.

Apakah saya tidak memproyeksikan kegiatan menulis sebagai sumber penghasilan ? Tidak munafik, saya juga berharap bisa mendapat cuan dari tulisan. Namun, saya tidak ingin menjadikannya sebagai tujuan utama karena nantinya akan menjadi beban mental. Akan tetapi saya ingin memandangnya sebagai konsekuensi dari sebuah kualitas. 

Yang penting, menulis, menulis, dan menulislah. Itu yang in syaa Allah ingin saya lakukan. Teringat sebuah pesan Hefi Andi dalam sebuah tulisannya di salah satu media Islam era tahun 90 an, "Jadikanlah salah satu agenda hidup Anda adalah menulis. Tiada hari tanpa menulis. Jangan khawatir tidak ada yang akan membacanya. Kalau tidak ada media yang mau memuat tulisan Anda, berikan kepada teman atau orang terdekat. Suruh dia baca tulisan Anda. Jika dia tidak mau silakan baca oleh Anda sendiri, dan jangan sekali-kali dibuang. Siapa tahu berguna. Paling tidak, seperti kata dosen saya, suatu saat anak kita bisa bangga, bahwa bapaknya dulu pernah hidup di muka bumi ini. Buktinya ada, tulisan ! (Menulis dengan Kemauan Besar, Sabili no. 17 Th X).

Alhamdulillah bisa dipertemukan dengan komunitas ODOP dan berhasil lolos OPREC.  Bergabung bersama orang-orang yang satu frekuensi.  Mudah-mudahan tekad untuk terus menulis benar-benar bisa diwujudkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENTINGNYA KETELADANAN

HANYA ADA SATU (4)

TIDAK SEMUA YANG DIDENGAR HARUS DICERITAKAN