YATIM

 KATA yatim sudah tidak asing bagi kita. Istilah anak yatim juga cukup familiar.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yatim adalah tidak beribu atau berayah lagi ( karena ditinggal mati). Sedangkan yatim piatu diartikan sudah tidak berayah ibu lagi. 

Adapun dalam kitab Mu'jam Mufradat Alfadhil Qur'an yang disusun oleh seorang ulama ahli bahasa, ar Raghib al Ashfahani , yatim berasal dari kata alyutmu yang diartikan sebagai terputusnya seorang anak kecil dari ayahnya sebelum mencapai usia baligh. (Hal. 427)

Dalam konteks pengertian ini, agama memberikan perhatian dan kepedulian dalam porsi yang cukup besar terhadap anak yatim . Misalnya, agama melarang umatnya dari perbuatan menghardik dan menelantarkan anak yatim. Bahkan pelakunya dikategorikan sebagai pendusta agama.

Islam juga mengharamkan memakan harta anak yatim. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggolongkannya sebagai salah satu dosa besar.  

Tetapi, kepada orang yang concern terhadap pemeliharaan anak yatim, beliau memberikan reward, akan bergandengan bersamanya di Surga laksana telunjuk dan jari tengah.

Mengapa Islam memberikan kepedulian yang begitu besar ? Karena anak yang ditinggalkan oleh bapaknya, jika tidak mendapatkan orang yang  menyayanginya, memperhatikan kebutuhan dan pendidikannya, terlebih ketika ibunya juga sibuk mencari nafkah, secara perlahan akan mengarah pada kenakalan.

Oleh karena itu, Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Pendidikan Anak Dalam Islam (1 : 149), menjadikan bencana keyatiman sebagai salah satu faktor penyebab kenakalan pada anak.

Menjadi yatim tentu bukan pilihan. Anak mana yang ingin ditinggalkan oleh orang tuanya ? Begitupun tidak ada orang tua yang ingin meninggalkan anak-anaknya yang masih membutuhkan bimbingan. Namun, kematian merupakan ketetapan Allah Sang Pencipta yang tidak bisa ditawar.

Akan tetapi,  tanpa disadari dewasa ini banyak orang tua yang membiarkan anak-anak mereka menjadi yatim. Kok bisa ? Bagaimana caranya ? Mungkin itu pertanyaan yang terbersit.

Ketika orang tua lebih memilih sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan mereka, lalu membiarkan anak-anak terlantar dan kurang perhatian, maka pada hakikatnya telah menjadikan anak-anak itu sebagai yatim.

Banyak ayah yang menghabiskan waktunya untuk bisnis dan bertemu klien, namun tidak memiliki cukup waktu untuk membersamai anak. Pulang kerja cape langsung istirahat. Bangun tidur siap-siap untuk berangkat kerja. Begitu seterusnya.

Begitupun tidak sedikit ibu yang aktif berkarir, sibuk ke luar rumah, tapi lupa dengan kewajibannya sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anak.

Mereka merasa telah melaksanakan kewajiban sebagai orang tua dengan memberi uang jajan yang cukup. Soal pendidikan, mereka serahkan kepada lembaga pendidikan yang dianggap cukup bergengsi.

Anak yang tumbuh tanpa mendapat perhatian dari kedua orang tua, tak ubahnya seorang yatim dan hidup sebagai anak yang terasing.

Sebuah pepatah seperti dikutip Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku yang sama mengatakan,  "Anak yatim itu bukanlah anak yang kedua orang tuanya telah selesai menanggung derita hidup ( mati), dan meninggalkannya dalam keadaan terhina. Tetapi anak yatim itu adalah yang mendapatkan seorang ibu yang menelantarkannya atau seorang ayah yang sibuk (tidak menghiraukannya)".

.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENTINGNYA KETELADANAN

HANYA ADA SATU (4)

TIDAK SEMUA YANG DIDENGAR HARUS DICERITAKAN