MEMBURU SURGA DENGAN TAKWA DAN AKHLAK MULIA
SURGA merupakan tempat yang diimpikan oleh setiap insan yang mempercayai keberadaannya. Di dalamnya sarat dengan berbagai kenikmatan yang hakiki dan abadi. Siapa pun yang memasukinya, tidak akan pernah mengalami tua, lelah, dan bosan. Akan sehat selamanya, hilang rasa sakit, sedih juga iri dan dengki terhadap sesama. Harum mewangi tiada sedikit pun bau dan kotoran. Apa pun yang diinginkan akan langsung diberikan tanpa harus bersusah payah.
Banyak amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk dapat mengecap kenikmatan surga. Di antaranya salat tengah malam ketika orang-orang sedang tidur lelap, memberi makan fakir miskin, dan menyebarkan salam antara sesama muslim.
Amalan-amalan tersebut jika disimpulkan akan mengerucut pada dua buah kalimat, bertakwa kepada Allah dan memiliki akhlak yang mulia. Ini persis seperti jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang perkara yang banyak menyebabkan orang masuk surga. "Taqwallah wahusnul khuluq" (takwa kepada Allah dan memiliki akhlak yang baik). Demikian jawaban beliau yang dijelaskan dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh at Tirmidzi.
Takwa itu dibentuk dari kata alwiqayah yang berarti penjagaan. Tidak ada yang dapat menjaga manusia dari adzab Allah kecuali melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, para ulama mendefinisikan takwa itu dengan "melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya".
Husnul khukuq artinya memiliki akhkak yang mulia terhadap sesama makhluk. Baik sesama manusia, binatang, maupun tumbuhan.
Jawaban Rasulullah tersebut menggabungkan antara takwa dengan husnul khuluq. Menurut Ibnul Qayyim, karena takwa kepada Allah itu memperbaiki hubungan antara seorang hamba dengan Allah. Sedangkan husnul khuluq (akhlak yang baik) itu memperbaiki hubungan antara seorang hamba dengan sesama makhluk-Nya. (Dalil al Falihini Lithuruqi Riyadhish Shalihin, III: 81).
Senada dengan Ibnul Qayyim, at Thibiy mengatakan, "Takwa kepada Allah menunjukan baiknya muamalah dengan al khalik (Sang Pencipta) yang diimplementasikan dalam bentuk melaksanakan semua perintah-Nya dan berhenti dari larangan-Nya. Sedangkan husnul khuluk menunjukkan bagusnya muamalah dengan sesama makhluk. Dua perangai ini akan menjadi penyebab masuk surga". (Tuhfatul Ahwadzi, 5 : 252).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa untuk dapat masuk surga itu tidak cukup hanya mengandalkan ibadah-ibadah ritual, namun juga harus memperbaiki ibadah-ibadah sosial. Ini merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan.
Dalam sebuah hadis riwayat al Bukhari disebutkan, bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang seorang perempuan yang rajin mendirikan salat malam, puasa pada siang hari, berbuat kebaikan, serta mengeluarkan sedekah. Namun sayang ia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya. Maka beliau menegaskan, tidak ada kebaikan dalam dirinya, ia termasuk ahli neraka.
Dalam kasus lain, terdapat seorang perempuan yang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam divonis akan disiksa dalam neraka , disebabkan mengikat seekor kucing hingga mati kelaparan. Ia tidak memberinya makan, tidak pula melepaskannya untuk mencari makanan.
Beberapa contoh kasus di atas ingin menegaskan, tanpa memperhatikan akhkak mulia terhadap sesama makhluk, ibadah ritual belum cukup untuk dijadikan sebagai tiket untuk memburu surga.
Begitupun sebaliknya, dipandang mulia oleh sesama tanpa menjalin hubungan baik dengan Sang Penguasa, tidak ada jaminan bisa mengecap nikmatnya surga.
Wallahu a'lam
Komentar
Posting Komentar