MENJADI TAMU YANG BERETIKA

Hidayatuna.com


DALAM bermuamalah  dengan sesama manusia, kita pasti tidak akan  lepas dari sebuah aktivitas yang disebut dengan bertamu. Baik kepada kerabat dekat, teman. tetangga, guru, atau yang lainnya. Apakah untuk sekedar bercengkrama, bersilaturahim, memberi ucapan selamat,  memenuhi undangan, dan lain sebagainya.


Untuk menjaga kenyamanan orang yang kita datangi, ada beberapa etika yang harus diperhatikan saat bertamu. Ini berlaku baik ketika kita bertamu kepada orang yang sudah kita kenal ataupun belum. 


Adapun etika yang dituntunkan Islam pada saat bertamu adalah sebagai berikut :


1. Hendaknya tidak bertamu pada  saat penghuni rumah sedang istirahat.


Sudah dapat dipastikan penghuni rumah akan sangat terganggu ketika kita bertamu pada  jam-jam istirahat. Apalagi kalau mereka termasuk orang yang tidak berani menolak. Maka, sudah semestinya sebagai orang yang memiliki etika memperhatukan hal ini. Andaikan kita berada dalam posisi mereka pun, tentu akan merasakan hal yang sama.


2. Ada baiknya kalau menanyakan kesiapan mereka terlebih dahulu. 


Siapa tahu mereka sedang tidak ingin diganggu atau memiliki keperluan lain sehingga  tidak siap menyambut kehadiran kita. Teknisnya bisa melalui telpon atau pesan WA.


3. Meminta ijin dan mengucapkan salam sebelum memasuki rumah. 


Sekalipun orang yang dikunjungi kerabat dekat atau teman akrab, etika tetap harus dijaga. Tidak boleh kita slonong boy, masuk tanpa permisi. 


Allah subhanahu wata'ala berfirman :


"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah yang bukan rumah mu sebelum meminta ijin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Hal demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat". (Qs. An Nur : 27).


4. Tidak mengintip ke dalam rumah, baik melalui celah pintu ataupun jendela.


Sesungguhnya di antara tujuan disyariatkannya meminta ijin ketika bertamu adalah demi menjaga pandangan, agar orang yang bertamu tidak menyaksikan  pemandangan yang tidak pantas dari penghuni rumah.


"Tidak halal bagi seorang muslim melihat ke dalam rumah sebelum meminta ijin. Jika ia melakukannya, maka ia seperti orang yang telah masuk (tanpa ijin). (HR. Al Bukhari, al Adabul Mufrad, 1093).


Bahkan,  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan ancaman  sangat keras bagi orang  yang melongok ke rumah orang lain tanpa ijin.


Dari Anas radiyallahu anhu, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang berdiri salat, lalu ada seorang laki-laki melongok ke dalam rumah. Maka, beliau mengambil anak panah lalu diarahkan pada kedua matanya". (HR. Al Bukhari, al Adabul Mufrad, 1069).


Bukan berarti kita harus melakukan hal yang sama ketika melihat orang yang melongok ke dalam rumah kita tanpa ijin. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan demikian untuk menunjukkan kerasnya larangan atas perbuatan tersebut.


5. Ketika meminta ijin hendaknya berdiri di samping kanan atau kiri pintu, tidak lurus di hadapannya. Hal ini bertujuan agar ketika pintu di buka, pandangan  tidak langsung tertuju ke dalam rumah .


"Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila mendatangi suatu pintu untuk meminta ijin , beliau tidak berdiri di hadapan pintu, namun di sebelah kanan atau kirinya. Jika diberi ijin, beliau masuk. Jika tidak diberi ijin, beliau pergi". (HR. al Bukhari, al Adabul Mufrad, 1084).


6.  Memberitahukan identitas kita ketika ditanyakan oleh penghuni rumah.


7. Maksimal meminta ijin sampai 3 kali.


 "Apabila seorang di antara kamu telah meminta ijin sampai tiga kali, kemudian tidak diberi ijin, maka hendaknya kembali pulang". (HR. Al Bukhari).


Tidak diperkenankan kita terus menggedor-gedor pintu atau berteriak-teriak agar penghuni rumah mengijinkan masuk. Jika  melakukannya, berarti  sudah menjadi tamu yang tidak beretika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENTINGNYA KETELADANAN

HANYA ADA SATU (4)

TIDAK SEMUA YANG DIDENGAR HARUS DICERITAKAN